Senin, 03 Januari 2011

Reny Farida

Lagu-lagu Banyuwangi sekarang sudah banyak digemari oleh semua golongan masyarakat baik mulai anak-anak, remaja dan para orang tua. Itu bisa dilihat dengan maraknya para penjual VCD lagu2 banyuwangi mampukah lagu-lagu Osing Banyuwangi bertahan dimasyarakat semuanya tergantung kita semuanya.
Powered by kemplenk

Watudodol

Watudodol



Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama “Watu Dodol” itu menceritakan asal muasal batu itu. Watu bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia Batu. Dodol, atau dalam masyarakat Using disebut Jenang. Nama jenang itu, biasanya diikuti jenis bahan bakunya. Misalnya, jenang ketan, karena terbuat dari beras ketan. Jenang Selo dan sebagainya. Nah dari sini, cerita asal usul watu dodol terlihat sekali bukan berasal dari masyrakat lokal. Apalagi pelaku cerita adalah Kyai Semar, tokoh pewayangan. Padahal warga Using (asli Banyuwangi), tidak mengenal tradisi pewayangan.
Masih melanjutkan kisah tentang watu dodol, konon Batu itu berasal dari jualannya Kyai Semar yang terjatuh di tempat itu. Sedang berasnya tumpah, menjadi pasir yang bersih di sekitar pantai watu dodol Konon alat pukulnya, kayu kelor, terlempat dan menancap di sela-sela batu di kana jalan (kalau dari Surabaya). Ini juga aneh, di celah batu tumbuh pohon kelor. Bagi masyarakat Jawa, kelor merupakan senjata pamungkas untuk menghilangkan segala pengarus mastik yang dimilki seseorang. Seperti ilmu kanoragan atau ilmu hitam, diyakini akan luntur bila bersentuhan dengan kayu kelor. Sementara bagi warga Using, merupakan bahan sayur segar yang disajikan pada siang hari. Terutama pada hari ke-2 dan setelah pada Idul Fitri. Bisa dipastikan, banyak orang Using yang memasak sayur daun kelor. Nah, aneh kan?
http://hasansentot2008.blogdetik.com/2008/12/03/watu-dodol-pintu-gerbang-masuk-banyuwangi/
Keanehan lain, adanya air tawar yang keluar dari bibir pantai di watu dodol. Padahal, di kawasan itu kan air asin semua. Masih menurut cerita tadi, konon air berasal dari bekal minum Kyai Semar yang tumpah. Bagi orang yang percaya (tapi hati-hati ya, nanti bisa syirik) katanya air itu merupakan air kehidupan (Tirto Nadi). Mereka ada yang membawa pulang, dengan berbagai alasan yang dipercayainya sendiri.
Terlepas dari cerita-cerita dibalik watu dodol, yang jelasan kawasan ini menawarkan keindahan alam. Kejernihan air laut, serta parorama batu karang yang bisa dilihat di Gardu Pandang di bukit sebelah kanan jalan. Bahkan seniman Banyuwangi saat itu, pernah mengabadikan kejernihan air laut watu dodol dalam bentuk lagu daerah Banyuwangi berjudul Padang Ulan: Padang Ulan ring pesisir Banyuwangi/Kinclong-kiclong segarane koyo koco/ Lanang wadon tuwek enom suko-suko// …. (Terang bulan di pantai Banyuwangi/Air lautnya berkilauan seperti kaca/Laki perempuan tua muda...
Powered by kemplenk

DESA Macan putih




Situs Macan Putih, Desa Macan Putih, Kabat, Banyuwangi. Tempat ini dulunya adalah tempat kremasi jenasah Raja Tawang Alun II Danurea.


Saat itu, pertengahan Mei lalu, saya memulai perjalanan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan. Awal penjejakan memang dimulai dari Desa Macan Putih, sekitar 10 kilometer dari Kota Banyuwangi.

Saya merasa tertarik menapaki jejak kerajaan bercorak Hindu terakhir di tanah Jawa itu. Kerajaan yang berdiri sekitar abad XIII hingga abad XVIII itu hampir tidak pernah tercatat dalam buku sejarah nasional. Penelitian sejarah juga tergolong minim. Kerajaan Blambangan lebih populer diceritakan sebagai legenda dan mitos. Sebut saja tentang epos yang cukup terkenal: kisah Damarwulan versus Minakjingga.

Saya berkesempatan menyusuri jejak Kerajaan Blambangan itu sebagai rangkaian acara Blambangan Heritage Trail yang diselenggarakan sebuah universitas swasta di Banyuwangi. Dosen Sejarah Universitas Gajah Mada Doktor Sri Margana didapuk menjadi pemateri dalam acara itu. Desertasi doktor berusia 40 tahun itu di Universitas Leiden, Belanda, berjudul 'JAVA'S LAST FRONTIER: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c 1763 - 1813.' dianggap semakin membuka sejarah Kerajaan Blambangan di era kolonial.

Para petani di Desa Macan Putih tampak sudah sibuk merawat tanaman padinya yang sebentar lagi memasuki masa panen. Berlomba dengan suara mesin bus, lamat-lamat saya mendengarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan dari kiling bambu. Ada sekitar lima kiling setinggi 10 meter ditanam di pinggiran sawah. Kiling itu terbuat dari seruas kayu yang dipasang di ujung bambu. Pada saat ditiup angin, kiling akan berputar dan menghasilkan bunyi, yang oleh petani di Banyuwangi dipercaya bisa mengusir burung.

Sebelum menjadi Desa Macan Putih, kawasan ini diberi nama hutan Sudiamara. Menurut Sri Margana, sekitar tahun 1665, Raja Blambangan ke VIII, yakni Tawang Alun II Danurea, menjadikan daerah yang subur ini sebagai ibu kota kerajaan.

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh abad XV, Blambangan menjadi rebutan kerajaan-kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, sebagai bagian ekspansi kerajaan-kerajaan itu ke wilayah Jawa bagian timur. Kerajaan-kerajaan di Bali, seperti Gelgel dan Mengwi juga berkepentingan dengan Blambangan untuk menangkal masuknya Islam. Sehingga, ibu kota Blambangan yang semula di Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan bercorak maritim, semakin terdesak ke pedalaman.

Dari sembilan raja yang pernah berkuasa di Blambangan, Tawang Alun II (1665-1691) merupakan raja terbesar. Wilayah kekuasaannya menjangkau Jember, Lumajang, Situbondo dan Bali. Masyarakat Blambangan saat itu hidup damai dan makmur, setelah sekian lamanya terlibat dalam berbagai peperangan melawan ekspansi kerajaan-kerajaan dari barat dan timur.


Powered by kemplenk

Indonesia i love you

Bendera Merah Putih Negara Indonesia Dan Monako/Monaco Berbeda Tidak Sama






Bendera merah putih bukan 100% milik rakyat indonesia saja karena rakyat negara monako juga memiliki dan mengagung-agungkan bendera yang sama. Di samping negara monaco (monako), negara polandia (poland) juga memiliki bendera yang mirip namun dengan warna yang terbalik alias bendera putih merah. Negara Singapura (Singapore) pun berbendera merah putih namun ada tambahan gambar bulan sabit dan lima bintang di warna merahnya.

Apakah serupa & sama?
Ternyata tidak sama.
Kenapa demikian?
Yang berbeda antara bendera merah putih milik Bangsa Indonesia dan Bangsa Monako ada perbedaan dari sisi skala ukuran benderanya.
- Bendera Indonesia : Skala 2 berbanding 3 (2:3)
- Bendera Monako : Skala 4 berbanding 5 (4:5)
Dari sisi sejarah bendera merah putih di Indonesia, kerajaan majapahit telah memakai lambang merah putih. Selain itu kerajaan kediri sebelum kerajaan majapahit dusah memakai panji-panji merah putih. Bendera negara monako dipakai mulai tahun 1881.
Oleh sebab itu dalam membuat bendera merah putih Negara Indonesia masyarakat diharapkan untuk berhati-hati membuat perhitungan skala ukuran benderanya agar pada saat kita hormat kepada bendera kita benar-benar menghormati bendera negara sendiri. Anak-anak pun sebaiknya diberi penjelasan dini secara ringan disaat menggambar bendera agar tidak salah membuat bendera indonesia.
Contoh : Ketika membuat bendera indonesia dengan panjang 1,5 meter, maka lebarnya adalah 1 meter.

Powered by kemplenk

Lirik lagu INDONESIA

"Sejarah Lagu “Indonesia Raya”

Hari Musik Nasional ditetapkan 9 Maret, diusulkan tahun lalu oleh Persatuan Artis, Pencipta dan Rekaman Musik Indonesia (PAPRI) sebagai penghargaan atas Wage Rudolf Supratman –sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya– yang lahir pada hari Selasa Wage, 9 Maret 1903 di Dusun Trembelang, Kelurahan Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.
Tidak banyak catatan hidup tentang komponis besar ini, Supratman mendapat pendidikan musik dari kakaknya yang di Makassar. Ketika masih bayi Supratman bersama keluarganya pindah ke Tangsi Messter Cornelis Jatinegara dan bersekolah atas diusahakannya tunjangan orang tuanya yang pernah menjadi KNIL. Surat keterangan lahirnya akhirnya dibuat dan diberi nama Wage Supratman.
Setelah ibunya meninggal Supratman mengikuti kakaknya yang menikah dengan seorang tentara KNIL –Koninklijk Nederlands Indisch Leger– ke Makassar. Di sana ia meneruskan sekolahnya di Normaal School hingga selesai, dan untuk keperluan administratif namanya menjadi Wage Rudolf Supratman. Selama di Makassar Supratman diajari musik dan biola oleh kakaknya hingga benar-benar tertarik dengan musik, selain juga senang dalam bidang sastra. Rasa tidak senangnya terhadap penjajahan Belanda pernah dituangkannya dalam bukunya yang berjudul “Perawan Desa”. Buku yang mengandung nilai-nilai nasionalisme Indonesia dan menyinggung pemerintahan Belanda itu akhirnya disita dan dilarang beredar.
Selepas bekerja di Makassar bidang jurnalistik membawa dirinya dalam gejolak pergerakan Indonesia, karena minatnya ini Supratman memutuskan pindah ke Bandung dan bekerja sebagai pembantu di harian Kaoem Moeda. Setahun kemudian berpindah ke harian Kaum Kita, sebagai pimpinan redaksi. Pekerjaan tersebut tetap dilakukannya sewaktu ia pindah kembali ke Jakarta sebagai wartawan Sin-Po, harian Tionghoa-Melayu. Di Jakarta itulah, ia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan, hingga ia mulai menulis lagu.
Pada tahun 1924 Supratman menulis lagu Indonesia Raya atas anjuran dari H. Agus Salim yang ditulis di harian Fajar Asia agar komponis Indonesia membuat lagu kebangsaan. Dengan biolanya lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan pada penutupan acara Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta. Selain lagu kebangsaan tersebut ia menciptakan lagu lain yang tak asing bagi kita, seperti “Ibu Kita Kartini”, “Di Timur Matahari” dan “Bendera Kita”.
Sayang sejuta sayang, Supratman tak sempat menikmati dentuman proklamasi dan gaungnya lagu Indonesia Raya, ia meninggal dunia di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1938.

Powered by kemplenk

Indonesia


Dari Rengasdengklok ke Pegangsaan Timur

Hari ini proklamasi dirayakan. Berikut sekelumit cerita tentang proklamasi 59 tahun yang lalu. Didapat dari situs JawaPalace. Mudah-mudahan menyegarkan ingatan pelajaran sekolah kita!
Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dibawa ke sebuah desa di sebelah utara Karawang yang bernama Rengasdengklok. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB. Pada waktu itu Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, tokoh-tokoh tua yang menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI, dibawa dan diamankan ke Rengasdengklok oleh golongan muda Chairul Saleh yang menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Sebelumnya golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga Bakteriologi diPegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Hasil keputusan disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya. Tetapi usul tersebut ditolak Ir. Soekarno, karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI, badan persiapan kemerdekaan.
Naskah Proklamasi
Menghadapi desakan tersebut, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut. Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, Kunto dan Mbah SudiroFatmawati dan Guntur. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta. Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks yang diketik oleh Sayuti Melik. ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta,

powered by kemplenk

Garuda di dadaku

Garuda Kalah di Bukit Jalil

Kuala Lumpur, AE.- Kans Indonesia untuk merebut gelar juara AFF Suzuki Cup 2010 terasa sangat berat. Pasalnya, di partai final pertama di kandang Malaysia, tim 'Merah Putih' dipukul 0-3.

Dua dari tiga gol Malaysia yang membuat publik Stadion Bukit Jalil bersorak dicetak oleh striker andalannya, Mohd Safee Sali. Satu gol tambahan diceploskan oleh Mohamad Ashari. Dengan kekalahan ini, Indonesia harus menang dengan selisih empat gol saat laga final leg kedua diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu (29/12/2010). Jalannya pertandingan Baru empat menit laga berjalan, Indonesia sudah mendapat pukulan ketika Oktavianus Maniani mendapat kartu kuning akibat melanggar pemain lawan. Alhasil, Okto pun dipastikan absen di leg kedua. Di menit-menit awal ini sudah muncul gangguan dalam bentuk sorotan sinar laser yang diarahkan dari tribun penonton ke wajah Markus Horison. Markus pun mengajukan protes kepada wasit. Malaysia menebar ancaman di menit 18. Kali ini, pergerakan Kunanlan Subramanaiam dari sayap kiri diakhirinya dengan tendangan kaki kanan yang bisa dijinakkan Markus dengan baik. Peluang berbahaya dipetik Indonesia di menit 27. Kerja sama satu-dua Ahmad Bustomi dengan Cristian Gonzales disudahi tendangan kaki kiri Bustomi yang menyamping di kiri gawang Khairul Fahmi. Skor imbang tanpa gol ini pun menyudahi 45 menit pertama pertandingan ini. Di saat jeda ini, di stadion diumumkan bahwa apabila ada sorotan laser lagi, laga akan distop. Dua menit babak kedua berjalan, sundulan Gonzales sukses menembus jala Malaysia, tetapi gol itu dianulir wasit karena El Loco sudah terlebih dahulu off-side. Indonesia membuat awal bagus di babak kedua ketika semenit berselang tendangan Bustomi mencoba kemampuan Fahmi. Tapi kali ini sepakan Bustomi bisa dijinakkan kiper Malaysia itu. Di menit 53, kembali terjadi insiden sorotan laser ke wajah Markus. Protes Markus membuat wasit Toma Masaaki kemudian menghentikan permainan. Keputusan wasit ini mengundang protes. Setelah terhenti selama lima menit untuk negosiasi, pertandingan akhirnya dilanjutkan. Dan hanya semenit setelah laga ini di-restart, Malaysia berhasil mencetak gol pembuka. Gol ini diawali oleh pergerakan Norshahrul Idlan di sisi kiri yang bisa melewati penjagaan Maman Abdurachman. Umpan pendek Idlan dicocor Mohd Safee Sali untuk merobek jala Markus. Di menit 66, Safee Sali kembali mengancam pertahanan Indonesia. Umpan Idlan ke Safee gagal diantisipasi oleh Markus, beruntung ada Zulkifli Syukur yang menghalau bola dengan kepala. Tak sampai semenit, Indonesia kebobolan gol kedua. Kembali aksi Idlan yang membelah pertahanan Indonesia kemudian mengirim umpan ke Ashari yang dengan jitu melepaskan tendangan keras yang bersarang di pojok atas gawang 'Garuda'. Alih-alih bangkit, di menit 73, Indonesia malah dipaksa menerima gol ketiga bersarang di gawang markus. Kali ini tandukan Safee menyambut umpan Mahalli bin Jasuli yang menjadi prosesnya. Masuknya Irfan Bachdim dan Arif Suyono sedikit menaikkan harapan Indonesia. Namun pertahanan dan koordinasi tim Malaysia sudah terlanjur bagus dan mereka pun sudah nyaman dengan unggul tiga gol. Sampai menit-menit akhir, para pemain Indonesia terus mencoba menyerang. Namun hingga peluit panjang berbunyi, tidak ada gol yang berhasil mereka ciptakan ke gawang Malaysia dan tim 'Harimau Malaya' pun resmi menang 3-0
Powerred  by kemplenk